Kamis, 13 November 2008

Belajar bersyukur

Menu sehari-hari untuk dibawa ke sekolah sebagai bekal antara lain sepotong salmon, kacang merah, brokoli, wortel, tahu, bahan-bahan tersebut secara bergantian saya hidangkan sebagai makanan wajib baginya sejak usianya setahun. 

Makanan dari lahir adalah ASI sampai usia 6 bulan, setelah itu ASI lanjut sampai usia 2 tahun ditambah dengan Jus apple, atau Brokoli, wortel, tomat, bayam, yang semuanya di blender, ditambah jagung (blender juga) sebagai sumber karbohidratnya. Setelah satu tahun sampai sekarang, saya beri Ultra Putih UHT untuk memenuhi kebutuhan susunya. 

Pada intinya, saya tidak memberikan produk kemasan padanya, walau dikata susu ini atau susu itu baik bagi anak, mahal, atau bubur ini atau bubur itu yang kemasan, saya tidak berikan, kecuali biskuit bayi untuk melatih giginya yang pada saat itu mulai tumbuh, dan pada saat transit di bandara dengan alasan praktis.

      ***

Tiga bulan yang lalu, terlihat tanda-tanda kebosanan akan makanan "bau amis" tersebut, ia mulai minta fried chicken, corned beef, bahkan snack-snack yang mengandung Monosodium Glutamat. Saya mulai "mengijinkan"nya untuk icip-icip, selain murah, mudah didapat, teman-teman sekolahnyapun mengkonsumsi makanan-makanan tersebut, sehingga timbul kelonggaran saya untuk anak saya, dengan maksud tetap saya batasi.

Namun selama seminggu, makan siangnya tidak disentuh, saya mengancamnya tidak akan memasakan makanan lagi buatnya. Dan saya melakukannya, karena salah satu hal penting lainnya yang ingin saya tunjukkan padanya adalah kejujuran. Saya pesan pada katering sekolah untuk makan siang di sekolah. "Mama tidak mau masak lagi buat Owri, ya, habis Owri gak mau makan, jadi biar aja tante yang masak buat Owri", begitu kataku.

Dia senang dapat makanan baru, makannya selalu habis. menunya juga lebih bervariasi, ayam goreng, nasi goreng, bayam, sebetulnya semua adalah makanan yang cukup sehat, karena katering sekolah memang diperuntukkan bagi anak-anak yang orang tuanya tidak memasak untuk anaknya. Dan setelah saya tanya, ai juru masak tidak menaruh vetsin ataupun yang bersifat MSG ke dalam makanan anak-anak.

Setelah satu setengah bulan, anak saya yang pandai dan baik hati itu bilang,"Ma, Owri mau dimasakkan sama mama lagi," katanya. "Ori bukan burung, ma... Kalo burung mamanya tidak masak. Burung cari makan sendiri," sambungnya. Saya setuju untuk memasak kembali menu awalnya, salmon.

Selama 2 minggu ia makan menu amis tersebut, dan kotak makanannya selalu kembali tak ada sisa nasi satu butirpun. Dan ia selalu minta persetujuan saya jika ada teman ulang tahun dan mendapat bingkisan makanan untuk dibawa pulang jika hendak menikmati isinya. (Kecuali untuk kue Tart, saya mengijinkannya, karena itu adalah roti, dan terkadang saya belikan juga ukuran kecil di toko roti yang saya percaya kualitasnya bagus). Bahkan mama teman sekelasnya yang menawari Owri permenpun ditolaknya, setelah mendapat persetujuan saya, baru ia mau. Jika mendapat snack kemasan, ia selalu bilang, "Ma, ini ada MSG nya? Owri tidak boleh makan? Ini buat mama aja? Makanan tidak boleh dibuang?" begitu selalu pertanyaannya, sesuai dengan urutannya.

Anak saya sekarang berusia 3 tahun 9 bulan.

      ***

HAri ini....
Saya buka kotak makannya, dan ternyata masih ada setengah porsi dari yang saya berikan (sekolah mengembalikan makanan sisa ke dalam kotak, agar orang tua tahu porsi makan anaknya). Ia memang agak sedang tidak enak badan,pilek, tapi saya berusaha konsisten dengan apa yang saya putuskan tentang makannya.

Seharusnya ia belajar ballet pulang sekolah, saya sudah membelikan roti keju kesukaannya untuk camilan dalam perjalanan dari sekolah menuju sekolah ballet.

Begitu naik mobil, ia melihat roti tersebut, dan dengan antusias langsung membuka bungkus plastiknya. Begitu roti sudah keluar dari plasiknya, saya bilang,

"Stop, Ow. Owri tidak boleh makan itu."

"Ini buat siapa, Ma?" tanyanya

"Tadi mama belikan buat Owri untuk dijalan, tapi karena makan Owri tidak habis, berarti Owri udah kenyang, jadi nggak perlu lagi makan roti"

Dia diam sambil melihat rotinya dengan mata kepingin, lalu saya merubah nada bicara saya menjadi lebih tegas, saya bilang, 

"Masukkan lagi rotinya ke plastik!" 

Dan ia melakukannya.....

    ***

Sampai rumah.....
Seperti biasa, ia turun dari mobil membawa tasnya, buka sepatu sendiri, buka baju sendiri (setelah sebelumnya minta tolong untuk dibukakan retsleting seragamnya), dan biasanya ia akan cari dan pakai baju ganti sendiri, seragamnya dimasukkan ke keranjang cucian, membenahi kasurnya dan segera memeluk gulingnya.... dan tidur....

Tapi kali ini tidak. Sebelum ia mencari baju gantinya, saya memotongnya, dan menyuruhnya tunggu saya di kamar. Ia menunggu.

Saya mengeluarkan kotak makanannya yang masih berisi nasi yang sudah lembek akibat tersiram kuah sup, mengambil kertas plastik bekas bungkus roti di dapur, meletakkan kertas plastik tersebut di lantai kamarnya, menuang makanan sisa ke atasnya, memberinya sendok,lalu.....

"makan!", kata saya.

Ia memandang saya, ragu-ragu, tapi melihat mata saya memandangnya dengan tajam, ia mulai mengambil sendoknya, dengan hampir menangis, dan mulai menyuap.....

Ia makan dengan cepat, ia lapar, takut, sedih, dan mungkin merasa terhina, entahlah....

Saya menungguinya sambil makan roti keju dengan (sok) lahap, padahal dalam hati ingin sekali memeluknya, mengambilkan piring, dan memberikan roti keju itu padanya.
  
Setelah makan, ia minta minum, namun ternyata botol minumnya ketinggalan (lagi) di sekolah. Maka saya menuangkan air ke dalam mangkuk bekas coklat, menyuapinya obat pilek, dan ia "terpaksa" minum dari mangkuk tersebut untuk menghilangkan rasa obat di mulutnya. Ia melakukannya tanpa protes.

Setelah minum, saya bertanya,

"Besok mau makan dari kertas lagi atau langsung dari tempat sampah?" tanya saya....

Matanya berair, tapi ia berusaha sekuat mungkin manahan air matanya (dan ingusnya). Ia gagal.

"Tidak..." katanya...

"Tidak apa?" tanya saya...

"Besok mama yang masak, dan owri yang habiskan makannya," katanya

"Ok, kalo mama tau lagi makan Ow gak habis, Owri boleh makan sama burung di luar," kataku.

"iya, ma," katanya.

Lalu saya beranjak membereskan bekas makanannya (yang tidak ada satupun nasi tercecer di lantai), lalu ke dapur, dan menunggu.

Setengah jam kemudian saya menengoknya, kamarnya sudah tersusun dengan setting tidur siang, dan ia sudah tidur memeluk guling dan anjing kecil kesayangannya.


   ***

Bangun tidur, kami sudah baikan, ia merayu saya dengan bilang,
 
"Maaaa...., ini kado mama, ma...." katanya...

(Maksudnya kado adalah dia, anak saya sendiri, karena pada saat saya berulang tahun, lahirlah anak saya, dan saya kerap bilang padanya, 'bahwa seperti apapun Owri, Owri tetap kado mama, hadiah ulang tahun yang dikasih Tuhan untuk mama.') 

Lalu saya mulai memeluknya, memberikan rotinya, ia menyantapnya, kami bermain bersama, seolah-olah kejadian makan dialasi kertas plastik tadi tidak pernah terjadi...

Namun saya tahu, bahwa ia telah mengerti, ia telah belajar, dan .....begitupun saya....


( I love U, Ow...., so much!)

The day after......
......ia menunjukkan kotak makanannya pada saya, dan.....habis tanpa sisa, saya memeluknya.....